Perasaan Suka Yang Menyiksa

tumblr_nvxv07fio61qk6kbzo1_1280

“Aku menyukainya, Nis,” ujar Azizah sore itu, selepas mereka pulang kuliah.

Semalam, Azizah sempat meminta Annisa pulang bersama meski jadwal kuliah mereka hari ini berbeda. Aziah dan Annisa memang kuliah di tempat yang sama, tapi mereka mengambil jurusan yang berbeda.

Meski sempat merasa ragu dan malu ketika mengatakannya, tapi akhirnya Azizah pun mulai mengungkapkannya, meski ia menceritakannya, tapi Azizah tidak menceritakan tentang sosok pria itu, pria yang membuat Azizah cemas belakangan ini.

Menceritakannya saja sudah membuat Azizah malu, apa lagi harus menyebutkan nama orang yang ia suka di hadapan sahabatnya itu. Sekalipun, mereka sudah bersahabat lama sejak SMP. Tapi bagi Azizah tidak semua perasaan yang ia rasakan mesti ia ceritakan pada sahabatnya itu. Ia tahu, Annisa tidak akan membeberkan rahasinya, sejauh ini cerita Azizah aman di tangan Annisa. Tapi tetap saja, Azizah tidak bisa melakukannya. Untungnya, Annisa bisa memahami dirinya.

“Menurutmu, aku harus bagaimana?” tanya Azizah. Wajahnya terlihat cemas. Tatapan matanya tak biasa, dari matanya saja bisa terlihat secercah kecemasan.

Azizah sudah tidak pernah pacaran lagi sejak memutuskan untuk berhijrah. Ia sadar bahwa dalam Islam tidak ada istilah pacaran. Apa lagi, pacaran hanya mendatangkan dosa dan menimbulkan kemaksiatan. Ia paham bahwa ia sempat melakukan kesalahan, tapi itu karena dulu ia tidak tahu jika pacaran dilarang dalam Islam. Sejak mengetahuinya dari Annisa, Azizah memutuskan untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi, serta memantapkan hatinya untuk berhijrah dan istiqamah menjadi muslimah sholehah.

Namun, masalah perasaan suka yang tiba-tiba datang menghampirinya telah membuatnya cemas belakangan ini. Ia tidak mau karena masalah suka yang ia rasakan membuatnya kembali pada jalan yang salah.

“Aku harus bagaimana, Nis?” tanya Azizah lagi, ketika Annisa belum memberinya jawaban atas permasalahannya itu.

Azizah cemas dan bingung, bagaimana menghapuskan perasaan suka yang tengah ia rasakan itu. Di satu sisi, ia bersyukur karena hatinya masih bisa merasakan perasaan suka setelah ia membangun benteng yang kuat untuk tidak mengenal sosok pria.

Tapi, entah bagaimana caranya, benteng yang ia bangun itu bisa tertembus oleh pria yang telah membuat benteng dihatinya perlahan-lahan mulai terkikis. Perasaan suka memang tidak pernah bisa diduga, sekalipun hati sudah dibentengi dengan begitu kuatnya.

“Sebaiknya, kamu lebih mendekatkan diri kamu kepada Allah yang telah menumbuhkan perasaan dihatimu,” jelas Annisa sambil tersenyum, menenangkan Azizah.

“Aku sudah mencobanya, Nis. Tapi tetap saja, dia masih suka terlintas dibenakku,” ujar Azizah sambil mengembuskan nafas panjang seakan tengah mengempaskan perasaannya itu.

“Kamu tahu kan, Nis, aku takut menyukai seseorang. Aku takut jika perasaan sukaku membuatku lalai dan menjauhkan aku dengan Allah dan impianku. Sungguh, perasaan suka seperti ini, sangat menggangguku!” tegas Azizah kesal.

“Bagaimana aku bisa melupakannya? Aku tidak mau memikirkan soal perasaan seperti ini, disaat aku belum siap. Aku enggak mau, pacaran lagi. Tapi, aku juga enggak tahu, harus bagiamana menyikapi perasaan ini.” Sesal Azizah pada dirinya. Tanpa disadari, air matanya terjatuh, membasahi pipinya.

Annisa menyadari Azizah mulai menangis, meski suaranya tidak terdengar. Tangisan itu seakan dicekam dengan kuat sehingga tak bersuara. Azizah pun langsung menghapus air matanya yang perlah terjatuh dan membasahi pipinya ketika Annisa mulai menyadarinya, “Zah, kamu nangis?”

“Engga, Nis,” ucap Azizah yang kembali menampakan seulas senyuman di wajahnya itu.

Melihat Azizah seperit itu, Annisa pun ikut tersenyum, meski Annisa tahu sahabat karibnya itu tengah tersiksa dengan perasaan suka yang ia rasakan. “Aku paham, niat kamu baik. Tapi, Zah, perasaan suka itu kan, hal yang wajar. Kamu tidak perlu secemas ini.”

“Aku tahu, perasaan suka itu wajar, tapi bagiku perasaan suka yang kurasakan ini,  menyiksa. Aku takut, Nis. Perasaan suka yang kurasakan ini, justru membuatku jauh dariNya. Aku takut. Kamu, tahu, kalau aku ini sulit mengatasi urusan perasaan.” Nada suara Azizah terdengar putus asa. Kecemasannya semakin terlihat.

Mendengar hal itu, Annisah tersenyum sambil berkata, “Perasaan suka itu wajar. Asal kita bisa menyikapinya, Zah.”

“Jangan sampai perasaan suka yang kamu rasakan justru membuat kamu melanggar perintah Allah. Yang perlu kamu lakukan hanya cukup menyimpan perasaanmu itu. Perasaan yang kamu rasakan tidak melulu harus diungkapkan melalui pacaran, dengan hanya menyimpannya di hati itu sudah cukup. Jika benar itu perasaan suka, maka dia akan terus ada di hatimu. Tapi, jika itu hanya perasaan suka biasa, maka akan hilang dengan sendirinya. Kamu, tidak perlu mencemaskan bagaimana harus menghapus perasaan itu.”

Azizah terdiam membisu mendengar ucapan Annisa. Melihat Azizah yang diam tak bergeming, Annisa pun bertanya, “Kamu pernah mendengar cerita tentang Ali Bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra?”

Mendapat pertanyaan itu, Azizah menggeleng pelan sambil berkata, “Belum.”

Mengetahui hal itu, Annisa pun memulai ceritanya. Ia bercerita tentang kisah cinta antara Ali Bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra yang menjaga kerahasiaan cintanya, baik dalam sikap, kata, maupun ekspresi. Hingga akhirnya Allah menyatukan mereka dalam ikatan suci pernikahan.

“Ali sudah menyukai Fatimah sejak lama, namun ketika Ali ingin melamar Fatimah, beliau tidak memiliki uang untuk membeli mahar, sehingga ia membatalkan niatnya itu. Namun, dia tidak menyerah, ia berhijrah untuk bekerja dan mengumpulkan uang. Di saat perjuangannya itu, Ali sempat patah hati ketika sahabat Rasulullah, Abu Bakar dan Umar bin Khattab hendak melamar Fatimah, lalu disusul Abdurahman bin Auf yang juga melamar Fatimah dengan membawa 100 unta bermata biru dari mesir dan 10.000 dinnar. Menurutmu, apakah Fatimah menerima lamaran diantara mereka?”

Selama Annisa bercerita, Azizah hanya diam mendengarkan. Ia hanya menjawab sesekali ketika Annisa bertanya dan meminta tanggapannya, “MasyaAllah, kalau aku jadi Fatimah, pasti aku akan bingung memilih diantara mereka. Mungkin Fatimah menerimanya, tapi aku tidak tahu, siapa yang ia pilih.”

Annisa tersenyum sambil menggelengkan kepala mendengar jawaban temannya itu, “Tebakanmu keliru. Tidak disangka, ternyata lamaran mereka tidak ada satupun yang diterima Fatimah. Tapi, ketika tiba giliran Ali untuk melamar Fatimah dan datang bertemu Rasulullah untuk menyampaikan maskudnya. Lalu Rasulullah pun menyampaikan pesan Ali kepada Fatimah. Dan, ketika Fatimah ditanya mengenai lamaran Ali, Fatimah hanya terdiam. Namun, diamnya Fatimah menandakan bahwa ia setuju.”

“Dan, ternyata lamaran Ali diterima, meski mahar yang ia berikan untuk Fatimah hanya berupa baju besi, yang kemudian dijual dan uangnya dijadikan mahar.”

“Sungguh, luar biasa kisah cinta mereka,” ujar Annisa takjub.

“Iya, kamu benar,” ucap Annisa sepakat, “Dan, yang paling tidak kusangka ternyata Fatimah memang sudah jatuh cinta dengan Ali sebelum ia melamarnya. Setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada Ali, bahwa sebelum menikah dengan Ali, ia pernah satu kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pemuda dan ia ingin menikah dengannya. Ketika Ali, bertanya mengapa Fatimah tidak menikah dengan pemuda itu dan apakah Fatimah menyesal menikah dengan Ali. Fatimah hanya tersenyum sambil menjawab bahwa pemuda itu adalah dirimu.”

Azizah kembali terdiam dan tertegun mendengar cerita Annisa tentang kisah cinta Fatimah dan Ali. Ketika keduanya saling menyukai, perasaan cinta mereka yang ada tak membuat keduanya memilih jalan yang salah, tapi justru membuat keduanya menjadikan perasaan suka itu untuk memantaskan diri sampai ketika waktunya siap.

“Aku ingin seperti Fatimah,” ujar Azizah, “Meski ia menyukai Ali, tapi perasaanya tetap terjaga sampai akhirnya Allah menyatukan Ali dan Fatimah.”

Cerpen karya Septiani Rahayu

Related Posts
Leave a reply