Cintanya Dalam Diam

“Dokter Mei…….!!! Kemana aja kok dua hari ini gak kelihatan. Aku kangeeen.” Tegur Nana dengan senyum lebarnya. Terlihat salah satu gigi serinya tanggal. Anak berusia enam tahun ini mengidap kanker otak stadium akhir. Hasil pemeriksaan mevonis masa hidupnya tersisa dua bulan dari sekarang.

“Dokter Mei kemarin harus ke luar kota sayang. Maaf ya, kita baru bisa ketemu sekarang”. Ucapku sembari memeriksanya.

Ia tak rewel, sekalipun jarum suntik untuk kemoterapi hinggap ditubuhnya. Orang-orang seperti Nana mengajarkanku banyak hal  mengenai hidup. Semua memang tak abadi. Kematian pasti akan datang  pada siapapun. Aku yang saat ini dalam keadaan sehat tentu tak menjamin akan hidup lebih lama daripada Nana yang telah  divonis dua bulan lagi sisa hidupnya. Tidak ada yang tidak mungkin. “Anak pintar….” Sembari membelai pipinya.

“Iya dong, kan aku mau jadi dokter. Dokter yang hebat kaya Dokter Mei, makanya harus ngerasain disuntik, biar besok kalo mau nyutik orang gak takut.” Tawanya yang renyah menutup perkataannya yang berapi-api.

Usai memeriksa Nana, aku melanjutkan pada pasien yang lain. salah satu pasienku seorang ibu yang bersusia senja. Jika Nana divonis masa hidupnya dua bulan lagi, maka ibu ini kurang dari satu bulan. Untuk urusan vonis seperti ini aku termasuk orang yang tak meyukai itu. Meskipun aku seorang dokter yang melakukan pemeriksaan hingga munculnya vonis tersebut. Namun aku yakin Allah memiliki hal-hal yang tak dapat diprediksi manusia.

***

Diumur yang mengijak tiga puluh ini, aku tak pernah membahas pernikahan dengan serius. Perjodohan yang dilakukan orang tuaku tak lantas membuatku tertarik pada pernikahan. Namun hampir setiap hari jika aku di rumah selalu hal itu yang dibahas. Kalau pun aku tertarik pada pernikahan mungkin sekarang bukan waktu yang tepat, sebab ada hal lain yang harus kupikirkan.

“Ada apa lagi Mei? Dia itu laki-laki yang baik.” Mendengar perkataan papa aku hanya tersenyum. Karena memang aku terlalu jenuh pada pembahasan ini.

“Kamu ngejar pendidikan lagi? Itukan bisa dilakukan sembari berumah tangga. Kamu udah kepala tiga dan dia laki-laki yang mapan”. Lagi-lagi aku hanya tersenyum.

Bersyukurnya aku memiliki orang tua seperti mereka. Orang tua yang benar-benar memperhatikan kehidupan anaknya. Namun laki-laki yang menjadi suamiku kelak bukan hanya sekadar baik dan mapan. Ada suatu hal yang tak kudapatkan semenjak kecil. Namun entah apa, dan aku ingin kelak suamiku dapat memberikan itu.

Hari-hariku lebih banyak kuhabiskan di rumah sakit. Ini salah satu caraku melarikan diri dari hal pernikahan. Berkeliling untuk memeriksa pasien-pasienku. Setelah memeriksa Nana, kini giliranku memeriksa beliau. Ibu berusia senja itu kali ini ditemani oleh laki-laki yang mengaku kerabatnya. Kurang lebih ia sepantaran denganku. Damai adalah perasaan yang kurasakan saat beliau menyuguhkan  senyum untukku.

“Subhanallah cantik….” Ucap beliau saat aku memeriksanya.

Usai memeriksa beliau, kuputuskan untuk izin pulang. Ada hal yang mengusik ketentramanku. Sesuatu meyeruak dalam hatiku, meronta-ronta untuk dibebaskan. Kejujuran yang kubungkam bertahun-tahun telah menggema merobohkan dinding-dinding penjara. Terlalu sakit untuk tahu kenyataan yang terjadi. Kenyataan pahit yang tak dapat kuterima dengan akal sehat, namun mengapa hatiku tak selaras dengan pikiranku.

“Mei…. “ suaranya menyadarkanku pada pergolakan yang kualami. “Papa tidak pernah melarang kamu. Karena itu memang hak dan kewajiban kamu.”

Perkataan papa mengalahkan egoku. Kuraih kunci mobil dan segera menuju rumah sakit. Di ruang 602 Bangsal Melati aku bergegas memasukinya. Laki-laki itu menatapku. Pasienku telah sampai pada waktunya. Kain putih menutupi sekujur tubuhnya.

“Sudah waktunya Mei. Namun ia sangat bahagia karena dokternya adalah anaknya sendiri.” Tangisku pecah. “Sedikitpun ia tak pernah meninggalkanmu Mei, meskipun beliau meninggalkanmu di panti asuhan semenjak lahir namun cintanya selalu menyertaimu. Ketika beliau tahu kau diasuh keluarga berada ia terus saja bersyukur, karena ia tahu, ia tak mampu membiayai hidupmu hingga seperti saat ini. Pesan ibumu Mei, jadilah perempuan yang membawa cahaya kesejukan. Beliau tahu, soal dunia kau tak perlu ditanya lagi. Namun bagaimana engkau dengan-Nya. Kenakanlah hijab, Mei.”

Hari itu adalah hari terakhir aku bersama ibu. Malaikat yang mencintaiku dalam diam. Keegoisanku dan ketidakjujuran pada diriku, sejatinya tak pernah kuinginkan. Mencium dan memeluknya adalah hal yang baru aku lakukan saat ia telah tersenyum dalam damai yang sesungguhnya. Kehidupan duniawi yang kukejar, memang membuatku kosong. Ada hal yang  tak kudapatkan yaitu kedekatanku pada Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Kini aku memulai hal baru, kejujuran yang kuinginkan, kejujuran yang kupilih. Tak hanya sekedar baik dan mapan. Dialah laki-laki yang menentramkan, sesuatu hal yang ingin kudapatkan dan itu ketemui padanya. Laki-laki yang dengan ikhlas merawat ibuku, disaat aku anaknya menutup hati. Ibuku memang tak pernah meninggalkanku. Kesedihanku selama ini hanya bagaikan fatamorgana pada gurun pasir. Itu bukanlah hal nyata, karena cinta ibuku memang selalu untukku.

Karya Alentera (Nama pena)

Related Posts
Leave a reply