Bagaimana Bersikap Antar Sesama Muslim dan Non Muslim

بسم الله الرحمن الرحيم

Assalamu’alaikum Wr Wb

Segala Puji syukur marilah senantiasa kita hanturkan kehadirat Allah SWT, dimana saat ini kita masih mendapatkan cucuran rahmat dan magfirah serta nikmat sehat wal’afiat sehingga kita mampu melaksanakan aktifitas sehari-hari terlebih aktifitas ibadah kita terhadap Allah SWT.

Sholawat teriring salam smoga dapat tercurahkan selalu atas baginda Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga, pengikut dan kita semua selaku ummatnya, dan kita mendapatkan syafaat di hari kiamat kelak nanti. Aamiin.

Semoga tulisan ini dapat menjadikan renungan pribadi penulis terlebih-lebih masukan untuk teman-teman pembaca semuanya.

Sebelum penulis menyampaikan artikel ini di bulan syawal ini, izinkan lah dari lubuk hati paling dalam menyampaikan “Taqaballahu Minna Syiamana wa Syiamakum, Minal Aidzin Wal Faidzin, Kullu ‘am wa antum bil khoir” Mohon maaf lahir bathin, smoga kita smua kembali ke fitrah sebagai insan yang saling menebar kemanfaatan dan saling maaf memaafkan.

Ikhwah fillah yang dirahmati Allah SWT

Islam adalah agama yang sempurna. Sempurna agama Islam lagsung diabadikan di QS. Al Maidah ayat 3 :
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Islam adalah agama yang sangat komplikatif, dimana seluruh ajaran disinggung dan terasa dalam kehidupan sehari-hari, baik itu mengenai hubungan kita kepada sang Maha Pencipta Allah SWT serta hubungan antar sesama manusia atau sesama makhluk CiptaanNya.

Perjalanan manusia tidaklah selalu mulus, pasti ada salah dan khilaf. Bahkan seorang alim dan memiliki segudang ilmupun pasti diliputi rasa salah dan khilaf. Padahal orang ini adalah seorang muslim. lalu bagaimana kita menyikapinya ketika sesama muslim itu ada kesalahan yang dimiliki ?

Di QS. Al-Hujurat ayat 10 : Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” sudah disinggung menganai status kita bersama sebagai saudara. saudara seiman seharusya tidak perlu menebar kebencian antar sesama manusia terlebih-lebih sesama muslim.

Islam yang diturunkan lewat Kanjeng Nabi merupakan bentuk kasih-sayang Allah Swt. kepada umat manusia. Ia juga menjadi bukti atas ketidak-dewasaan manusia dalam persepsi dan motivasi etis dalam beragama. Memang ada kaitan yang erat antara  Islam dengan kasih-sayang Allah di satu pihak, dan Islam dengan kelemahan manusia di pihak yang lain. Dengan ungkapan lain, manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan terbatas, karena itu manusia membutuhkan bimbingan dan peringatan agar tidak menyimpang dari jalan yang benar. Karena itulah Allah mengutus para rasul sekaligus kitab suci sebagai pedoman dalam berperilaku. Dengan tindakan yang tidak ramah, bagaimana sifat kasih-sayang Allah itu diimplementasikan. Bukankah Rasul melarang kekerasan, bahkan kepada orang yang belum beriman sekalipun.

Hilang atau menipisnya rasa persaudaraan terhadap orang atau kelompok lain kemungkinan karena kurangnya pemahaman mengenai orang atau kelompok lain tersebut. Bahwa kelompok lain itu kemungkinan membawa nilai kebenaran juga diabaikan. Padahal para Imam Mujtahid, Muhammad bin Idris yang lebih dikenal dengan Imam Syafi’i misalnya, mengakui kemungkinan adanya kebenaran pada hasil ijtitihad Imam lain. Dengan rendah hati beliau juga mengakui kemungkinan salah hasil ijtihadnya. Dalam hal ini, perlu adanya kesaling-pahaman mengenai pikiran dan orientasi yang dimiliki masing-masing.

Peradaban manusia selalu berkembang, demikian juga pemikiran seseorang atau kelompok yang berhubungan dengan  keagamaan. Berkembangnya pemikiran meniscayakan perubahan pandangan dan penilaian terhadap obyek tertentu. Upaya menciptakan suasana kesaling-pahaman menjadi hal yang penting dalam situasi yang hampir merusak persaudaraan ini. Tidak menutup kemungkinan kondisi demikian pada gilirannya akan memperlemah kekuatan yang dimiliki umat Islam.

Untuk mendorong terciptanya persaudaraan, beberapa hal perlu diketahui menyangkut perbedaan dan perkembangan pemikiran yang selalu mewarnai kehidupan manusia. Pertama, setiap madzhab atau kelompok pemikiran keagamaan memiliki pandangan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Kelompok Syafi’iyah misalnya, ada perbedaan pendapat dengan pendirinya, Imam al-Syafi’i. Kaum sunny juga memiliki beberapa perbedaan antara As’ariyah dan Maturidiyah. Bahkan Imam Syafi’i mengalami perubahan pandangan ketika masih di Irak dengan sesudah beliau ke Mesir. Perubahan pemikiran dan pandangan ini dikenal dengan istilah qaul qadim dan qaul jadid. (http://www.tasamuh.id/bersadara-walau-berbeda/)

Lalu Bagaimana kita bersikap antar sesama muslim ?

– Tawasuth (Moderat)
At-tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Ini disarikan dari firman Allah SWT : Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian (umat Islam) umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia umumnya dan supaya Allah SWT menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) kamu sekalian. (QS al-Baqarah: 143). Diceritakan, saat Imam Syafii menerima surat dari Gubernur Asia Tengah Abu Mawar al-Mahdi perihal memahami agama, Syafii lantas memerintahkan muridnya Rabi bin Sulaiman al Muradi untuk membalas surat dari gubenur. Sekarang risalah sepanjang 300 halaman popular dengan kitab ar risalah.
Di dalam risalah tersebut, dituliskan dalam memahami agama dibutuhkan 3 bayan. Bayan illahi, quran kemudian bayan nabawi yang berupa hadits serta bayan aqli (ijma dan qiyas). lalu inti dari cerita ini apa???Dari cerita ini kita harus mempunyai pemikiran moderat ditengah-tengah perbedaan pendapat. Pemikiran yang mengedepan mashlahat, tidak keras dan juga tidak bebas.
Dalam bahasa agama Qaulan Layyina. Harus lembut cara menyampaikan pendapat dan isi pendapat tersebut disampaikan dalam bahasa lembut pula. (http://www.nu.or.id/post/read/16551/karakter-tawassuth-tawazun-i039tidal-dan-tasamuh-dalam-aswaja)

– Tawazun (Seimbang)
Tawazun menurut bahasa berarti keseimbangan atau seimbang sedangkan menurut istilah tawazun merupakan suatu sikap seseorang untuk memilih titik yang seimbang atau adil dalam menghadapi suatu persoalan.
Sikap tawazun sangat diperlukan oleh kita sebagai insan yang muslim, tujuannya adalah agar kita tidak melakukan sesuatu hal yang berlebihan dan mengesampingkan hal-hal yang lain atau malah melupakannya, padahal hal yang dimaksud itu memiliki hak yang harus ditunaikan pada diri kita.
Rasulullah saw memerintahkan kita untuk bersikap tawazun seperti. Dapat diambil contoh kisah para sahabat Rasulullah saw, yang kurang lebih seperti ini, ada tiga orang sahabat Rasulullah saw yang datang   kepada beliau dan mengutarakan maksudnya masing-masing, orang yang pertama mengatakan bahwa dia tidak akan menikah selama hidupnya, kemudian orang yang kedua mengatakan bahwa dia akan berpuasa setiap hari dan terus-menerus seumur hidupnya dan yang terakhir mengatakan bahwa ia akan sholat tanpa henti-hentinya, namun apa kata Rasulullah saw, kalian jangan seperti itu, masing-masing urusan ada haknya, urusan dunia haknya sedangkan urusan akhirat ada juga haknya, jalankanlah hal itu dengan seimbang. (http://www.nu.or.id/post/read/16551/karakter-tawassuth-tawazun-i039tidal-dan-tasamuh-dalam-aswaja)

– I’tidal (Adil)
al-i’tidal atau tegak lurus. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu sekalian menjadi orang-orang yang tegak membela (kebenaran) karena Allah menjadi saksi (pengukur kebenaran) yang adil. Dan janganlah kebencian kamu pada suatu kaum menjadikan kamu berlaku tidak adil. Berbuat adillah karena keadilan itu lebih mendekatkan pada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS al-Maidah: 8)
Sikap adil diperlukan agar tidak terjadi ketimpangan dalam hal pengambilan keputusan serta menyeimbangkan posisi dalam penentuan sikap. (http://www.nu.or.id/post/read/16551/karakter-tawassuth-tawazun-i039tidal-dan-tasamuh-dalam-aswaja)

– Tasamuh (Toleransi)
Tasamuh berasal dari bahasa Arab yang berarti toleransi yang mempunyai arti bermurah hati, kata lain dari tasamuh adalah ‘tasahul’ yang memiliki arti bermudah-mudahan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata toleransi adalah suatu sikap menghargai pendirian orang lain (sepertin pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian diri sendiri.
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa toleransi mengandung sifat-sifat seperti lapang dada, tenggang rasa, menahan diri, dan tidak memaksakan kehendak orang lain.
Sikap tasamuh juga dapat kita tunjukan dengan sikap sabar menghadapai keyakinan-keyakinan orang lain, pendapat-pendapat mereka dan amal-amal mereka walaupun bertentangan dengan keyakinan dengan keyakinan kita dan tidak sesuai dengan syariat Islam. Kita juga dilarang untuk menyerang, menyakiti dan mencela orang lain yang tidak sependapat dengan kita. (http://www.kitapunya.net/2015/08/tasamuh-toleransi-pengertian-dalil-contoh-fungsi.html)

– Amar Ma’ruf Nahyi Munkar (Bijaksana dalam mengajak kepada kebaikan dan menjauhkan atau   menolak segala bentuk keburukan yang merusak kehidupan)
Islam memang mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar, seperti dinyatakan dalam al-Qur’an sebagai berikut:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Q.S: Ali Imran: 104)

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (Q.S: Ali Imran: 110)
Selain kedua ayat di atas, juga terdapat sebuah hadis riwayat Muslim, yang dijadikan dalil tentang ajaran amar ma’ruf nahi munkar, sebagai berikut:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ كِلَاهُمَا عَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ وَهَذَا حَدِيثُ أَبِي بَكْرٍ قَالَ أَوَّلُ مَنْ بَدَأَ بِالْخُطْبَةِ يَوْمَ الْعِيدِ قَبْلَ الصَّلَاةِ مَرْوَانُ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ الصَّلَاةُ قَبْلَ الْخُطْبَةِ فَقَالَ قَدْ تُرِكَ مَا هُنَالِكَ فَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ أَمَّا هَذَا فَقَدْ قَضَى مَا عَلَيْهِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ رَجَاءٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَعَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ فِي قِصَّةِ مَرْوَانَ وَحَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ شُعْبَةَ وَسُفْيَانَ

Barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran, hendaklah ia merubah dengan tangannya, jika tidak bisa maka dengan lisannya, jika tidak bisa lagi maka dengan hatinya, dan yang terakhir itu adalah selemah-lemahnya iman. (HR. Muslim).

Kita mencontoh saja Ulama ulama terdahulu, sebenarnya banyak ulama kita yang belajar di timur tengah, tetapi ia tidak legeg membawa kultur budaya luar kenegaranya,  ia sangat menghormati budaya leluhur, salah satu contoh pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dan pendiri NU KH Hasyim Asy’ari beliau pernah belajar di Makkah, tapi setelah ia pulang ke tanah air tidak serta merta dengan gampang menerapkan budaya arab di negera Indonesia, ia lebih mengacu pada kultur dan budaya Indonesia, dengan menciptakan Islam Ke Indonesiaan yang penuh keramahan dan musyawarah.
Memang tidak semua budaya yang datang dari timur itu benar semuanya, dan tidak semua budaya yang datang dari barat salah semuanya, kita selektif saja memandangnya, selama budaya dan  kultur itu maslahat, manpaat untuk umat sah sah saja diterapkan dimana saja.
Para pemuka agama terdahulu di Indonesia di anggap berhasil dalam berdakwahnya, walaupun tidak banyak sensasi yang ia terapkan tetapi umat sangat menerima cara penyampaian dakwahnya, karena yang dikedepankan oleh mereka adalah Tawasuth, (Pertengahan) Tasammuh (Teloransi) dan Tawazun (Perhitungan), ketiga pilar inilah yang dijadikaan rujukan oleh mereka. dalam menegakan kebenaran ilmunya. Dan juga tidak terlepas melalui sentuhan kultur dan budaya yang ada di daerahnya masing-masing.
Imam Al Marrudzy bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal, “Bagaimana beramar ma’ruf dan nahyi mungkar?” Beliau menjawab, “dengan tangan, lisan dan dengan hati, ini paling ringan,” saya bertanya lagi: “Bagaimana dengan tangan?” Beliau menjawab, “Memisahkan di antara mereka,” dan saya melihat beliau melewati anak-anak kecil yang sedang berkelahi, lalu beliau memisahkan di antara mereka. Dalam riwayat lain beliau berkata, “Merubah (mengingkari) dengan tangan bukanlah dengan pedang dan senjata.” (Al Adabusy Syar’iyah, 1/185) Saya tidak memungkiri adakala kita perlu senjata dalam melakukan amar ma’ruf nahyi mungkar.
Apalagi zaman sekarang  banyak orang yang berwatak keras. Namun kekerasan ini harusnya lebih bersifat daf’i atau bertahan dari serangan. Ketika da’wah Rasul ditentang dengan kekerasan, beliau membalas dengan strategi yang meyakinkan umat ketika itu, salah satu contoh perdamaian Hudaibiyah antara Rasul dengan orang orang qurais, seakan akan perdamaian itu merugikan umat Islam tapi pada dasarnya sedang mengntungkan dakwah Islam, akhirnya orang orang kafir berprasangka lebih baik terhadap metode dakwah orang Islam dengan mengdepankan Teloransi, setelah itu banyak orang kafir yang masuk agama Islam.
Saya sebenarnya salut kepada beberapa orang yang berani menegakkan amar Ma’ruf Nahi Munkar di negeri ini. sangat jarang yang berani menentang orang yang sedang minum minuman keras di pinggir jalan. atau melarang perzinahan di tempat lokalisasi. karena bagaimanapun juga hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardu kifayah. harus ada yang melakukan untuk menggugurkan kewajiban bagi yang lainnya. kita memerlukan orang-orang yang semacam ini tapi tentunya dengan beberapa ketentuan agama, tidak mengedepankan emosi dan hawa nafsu tetapi dengan amar ma’ ruf bil ma’ruf nahyi munkar bil ma’ruf. (http://www.nupurwakarta.org/2016/07/bagaimana-menegakan-amar-maruf-nahi.html)
Jika kelima point tersebut mampu dijalankan, maka tidak akan terjadi perselisihan baik selisih secara pemahaman atau perselisihan yang menyebabkan permusuhan baik antar sesama muslim ataupun dengan non muslim.

Semoga kita semua dalam keadaan sehat wal’afiat dan mampu menjaga hubungan baik antar sesama muslim sendiri ataupun dengan non muslim.

Wallahu’alam
Related Posts
Leave a reply